Pernah enggak sih, Lo ngerasa capek sama hidup tapi bingung harus cerita ke siapa? Film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis hadir sebagai potret jujur tentang perasaan itu.
Film drama Indonesia yang tayang Oktober 2024 ini enggak cuma menyuguhkan kisah emosional, tapi juga mengajak Lo buat masuk ke ruang paling sunyi dalam diri manusia, luka batin yang sering disembunyikan.
Dibintangi Prilly Latuconsina dan Pradikta Wicaksono, film ini pelan-pelan membuka tabir tentang pergulatan mental yang dekat banget dengan realita generasi sekarang.
Di tengah gempuran film horor yang meramaikan bioskop, Bolehkah Sekali Saja Kumenangis justru datang dengan pendekatan yang lebih hangat, manusiawi, dan relevan. Ceritanya bukan soal teriak ketakutan, tapi tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Nah, sebenarnya konflik apa yang dialami para karakternya sampai air mata jadi sesuatu yang “mahal”? Kenapa film ini disebut sebagai salah satu tontonan paling relate tahun ini? Yuk, lanjut baca ke bagian alur cerita di bawah dan siap-siap terbawa perasaan.
Isi Sinopsis Film & Tokoh-Tokohnya
Tokoh Utama
- Tari (diperankan oleh Prilly Latuconsina) – Tari adalah sosok perempuan muda yang tumbuh dalam bayang-bayang trauma KDRT akibat ayah yang abusif. Ia dipaksa dewasa lebih cepat, menjadi tulang punggung keluarga sekaligus pelindung bagi ibunya. Di balik sikapnya yang terlihat kuat dan tegar, Tari menyimpan luka batin, rasa takut, serta kesulitan mempercayai orang lain, termasuk orang terdekat.
Tekanan emosional yang ia pendam bahkan berdampak pada kondisi fisiknya, seperti jerawat akibat stres. Perjalanan Tari berubah ketika ia berani membuka diri di support group, belajar mengekspresikan perasaan, dan menyadari bahwa meminta bantuan bukanlah kelemahan.
- Baskara (diperankan oleh Pradikta Wicaksono) – Baskara adalah sosok pria dengan emosi yang meledak-ledak, tumbuh di bawah tekanan ekspektasi yang terus membebani hidupnya. Ia kerap kesulitan mengontrol amarah karena luka batin yang belum pulih sepenuhnya. Bergabung dalam sebuah support group menjadi titik balik penting bagi Baskara, terutama saat ia bertemu Tari.
Melalui pertemuan-pertemuan tersebut, Baskara mulai belajar mengenali emosinya sendiri dan menahan diri saat konflik muncul. Kedekatannya dengan Tari menghadirkan ruang aman untuk saling berbagi trauma. Perlahan, Baskara berkembang menjadi pribadi yang lebih tenang, empatik, dan mampu memberi dukungan, sekaligus menerima dirinya apa adanya.
- Pras (diperankan oleh Surya Saputra) – Pras digambarkan sebagai sosok ayah yang keras, temperamental, dan abusif, baik secara verbal maupun fisik. Ia menjadi sumber konflik utama dalam keluarga, terutama bagi Tari, putrinya. Sikap otoriter dan penuh amarah membuat rumah terasa seperti “neraka” bagi anak-anaknya.
Tanpa sadar, perilaku Pras menanamkan trauma mendalam yang membentuk kepribadian Tari menjadi seorang people pleaser yang sulit mengekspresikan emosi. Karakter Pras merepresentasikan potret kelam kekerasan dalam rumah tangga dan bagaimana luka batin dapat diwariskan antar generasi, menjadikannya tokoh penting yang memicu konflik emosional dalam cerita film ini.
Alur Cerita
Film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis mengajak lo menyelami sisi rapuh kehidupan Tari (Prilly Latuconsina), seorang perempuan muda yang sejak kecil dipaksa tumbuh di tengah keluarga yang penuh luka. Hidup Tari jauh dari kata hangat.
Rumah yang seharusnya jadi tempat pulang justru berubah menjadi ruang ketakutan, karena ayahnya dikenal kasar, temperamental, dan sering melampiaskan amarah lewat kekerasan verbal maupun fisik.
Sejak usia dini, Tari sudah terbiasa mendengar teriakan, pertengkaran, dan melihat ibunya jadi korban. Beban hidupnya makin berat ketika sang kakak memilih pergi meninggalkan rumah.
Keputusan itu membuat Tari berada di posisi sulit: dia harus bertahan sendirian, sekaligus berusaha melindungi ibunya dari amukan ayah mereka. Lo bisa kebayang, kan, betapa beratnya tekanan yang harus dia simpan selama bertahun-tahun?
Trauma masa kecil itu tumbuh bersama Tari hingga dewasa. Luka batin yang tak pernah benar-benar sembuh membuatnya terjebak dalam ketakutan dan rasa bersalah. Di depan orang lain, Tari selalu terlihat kuat, seolah hidupnya baik-baik saja.
Tapi di dalam dirinya, ada tangisan yang terus tertahan, ada emosi yang dipendam terlalu lama sampai hampir meledak.
Titik balik hidup Tari datang saat dia menemukan sebuah komunitas bernama Support Group. Tempat ini jadi ruang aman bagi orang-orang dengan luka emosional untuk berbagi cerita tanpa dihakimi.
Dengan ragu, Tari memberanikan diri bergabung. Di sanalah, untuk pertama kalinya, dia mulai membuka diri dan mengakui rasa sakit yang selama ini dia sembunyikan dari dunia.
Di komunitas itu pula, Tari bertemu Baskara (Pradikta Wicaksono), pria dengan masa lalu dan masalah emosional yang tak kalah rumit. Baskara bukan sosok yang sempurna, emosinya pun sering tak stabil.
Namun, justru dari pertemuan itulah muncul koneksi yang tak terduga. Baskara menjadi pendengar yang tulus, seseorang yang memahami tanpa memaksa, meski dirinya sendiri masih berjuang melawan amarah dan luka batinnya.
Perjalanan Tari untuk berdamai dengan masa lalu jelas nggak mudah, sobat IDNtrailer. Trauma lama terus menghantuinya, konflik batin muncul silih berganti, dan hubungan yang terjalin pun diuji oleh luka masing-masing.
Film ini bukan sekadar tentang cinta, tapi tentang keberanian untuk mengakui rasa sakit dan bertanya pada diri sendiri: bolehkah sekali saja, aku menangis tanpa merasa lemah?
Apakah Tari akhirnya mampu memutus rantai trauma yang membelenggunya sejak kecil? Dan apakah kehadiran Baskara benar-benar menjadi cahaya, atau justru ujian baru dalam hidupnya? Jawabannya cuma bisa lo temukan dengan mengikuti kisah emosional ini sampai akhir.
Produksi & Detail Tambahan
- Sutradara : Reka Wijaya
- Penulis Naskah : Junisya Aurelita, Santy Diliana, Rezy Junio, Alim Sudio
- Produksi : Umay Shahab, Prilly Latuconsina, Yahni Damayanti, Lisbeth Simarmata, Indra Yudhistira, Mieska Alia
- Rumah Produksi : Sinemaku Pictures, Legacy Pictures, Amadeus Sinemagna
- Pemeran Utama : Prilly Latuconsina, Dikta Wicaksono
- Pemeran Pendukung : Surya Saputra, Dominique Sanda, Widi Mulia, Shania Gracia, Antonio Blanco Jr, Kristo Immanuel, Ummi Quary, Kenya Nindia, Dayu Wijanto sebagai Tika, Adzana Ashel, Ence Bagus.
- Jadwal Tayang : 17 Oktober 2024
Kesimpulan dan Ajakan Nonton
Film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis mengajak lo, Sobat IDNtrailer, masuk ke dalam luka batin yang selama ini sering dipendam rapat-rapat. Ceritanya berfokus pada Tari, seorang perempuan yang tumbuh dalam keluarga penuh kekerasan.
Ayahnya yang abusif dan ibunya yang memilih bertahan di situasi toxic bikin Tari harus kuat sendirian sejak kecil. Setelah sang kakak pergi, beban itu makin berat sampai akhirnya mental Tari jatuh ke titik paling rendah.
Di tengah keterpurukan, Tari menemukan support group yang jadi ruang aman buatnya. Di sanalah ia bertemu Baskara, sosok pria dengan emosi meledak-ledak dan trauma yang tak kalah dalam.
Pertemuan mereka bukan cuma soal romansa, tapi tentang dua orang terluka yang sama-sama belajar bertahan dan saling memahami.
Disutradarai Reka Wijaya, film ini menyoroti dampak KDRT dan pentingnya dukungan emosional dengan pendekatan yang jujur dan menyentuh. Visualnya kuat, emosinya dapet, dan pesannya terasa dekat, nggak apa-apa capek, nggak apa-apa nangis, dan nggak salah buat minta tolong. Prilly sendiri menegaskan bahwa kesehatan mental bukan hal tabu untuk dibicarakan.
Film berdurasi 1 jam 41 menit ini dijadwalkan tayang 17 Oktober 2024 untuk penonton 17+. Jadi, kalau lo atau Sobat IDNtrailer pengin nonton drama yang relevan, emosional, dan penuh makna, jangan sampai melewatkan Bolehkah Sekali Saja Kumenangis di bioskop. Siapin hati, dan mungkin juga tisu.
FAQ yang Menarik
Q: Tentang apa sebenarnya film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis?
A: Film ini mengikuti perjalanan Tari, seorang perempuan yang tumbuh dengan luka batin akibat kekerasan dalam rumah tangga. Ia memendam trauma sejak kecil dan harus bertahan sendirian demi melindungi ibunya, hingga akhirnya jiwanya berada di titik paling rapuh.
Q: Mengapa karakter Tari terasa begitu dekat dengan realitas banyak orang?
A: Karena Tari mewakili banyak anak yang tumbuh di keluarga toxic, terpaksa dewasa sebelum waktunya, dan belajar menyembunyikan rasa sakit demi orang lain.
Q: Apakah film ini hanya berfokus pada kesedihan?
A: Tidak. Di balik rasa sakit, film ini justru berbicara tentang keberanian untuk menghadapi trauma dan perlahan menerima diri sendiri.
Q: Pesan utama apa yang ingin disampaikan film ini?
A: Menangis bukan tanda kelemahan. Bercerita bukan hal memalukan. Kesehatan mental adalah sesuatu yang perlu dijaga dan layak diperjuangkan.
Q: Mengapa film ini ditujukan untuk penonton usia 17 tahun ke atas?
A: Karena tema kekerasan dalam rumah tangga dan trauma psikologis disajikan secara emosional dan realistis, membutuhkan kedewasaan untuk memahaminya.
Q: Apa harapan Prilly Latuconsina lewat film ini?
A: Prilly ingin membuka ruang diskusi tentang kesehatan mental dan mengajak generasi muda untuk berani bersuara, terutama mereka yang selama ini merasa tidak didengar.
Q: Kapan film ini dirilis?
Bolehkah Sekali Saja Kumenangis sudah tayang pada 17 Oktober 2024 dengan durasi 1 jam 41 menit.






